Saya tidak ingin, tetapi bukan tidak bersedia jadi cawapres : Mahmud MD

Saya tidak ingin, tetapi bukan tidak bersedia jadi cawapres. Bingung dengan kata-kata prof Mahmud ini? Berikut selengkapnya.

Pagi ini terasa segar, mendengar kicau burung di rumah Yogya.

Di Medsos ramai cuat-cuit tentang kesediaan saya menjadi cawapres. Seperti banyak diberitakan kemarin sore.

Sebenarnya jawaban saya tentang pencawapresan sama dengan sebelum-sebelumnya tapi entah kenapa yang sekarang viral.

Kemarin siang saya ada pertemuan BPIP dgn Pimpinan MPR.

Di depan pintu dicegat dgn pertanyaan, apakah saya bersedia menjadi cawapres spt yg muncul di dlm radar analisis dan survei-survei.

Jawban saya konsisten yakni “Saya tidak ingin tetapi bukan tidak bersedia jd cawapres”

Saya tidak pernah menawarkan diri untuk menjadi cawapres, misalnya, tdk memasang baliho, tdk meminta dimasukkan ke dalam survei.

Bahkan tidak melobi kepada parpol. Itu artinya saya tidak ingin.

Tetapi tidak ingin bukan berarti tidak mau. Kalau mengatakan tdk mau itu sombong.

Ketika ditanya pers, bagaimana sikap saya dengan masuknya nama saya ke bursa cawapres utk mendampingi Pak Jokowi maka sy jawab,

“Alhamdulillah dan terimakasih, nama saya masuk. Berarti demokrasi makin maju sebab di luar opini dan survai mainstream masih bisa muncul nama lain.

Maksud saya kita perlu bersyukur. Meski banyak dikritik demokrasi pasca reformasi sudah ada kemajuan yakni bisa memunculkan capres-cawapres dari bawah.

Sebelum reformasi tak mungkin ada calon muncul dari bawah dan tak ada angka-angka survai karena calon dan pemenangnya sudah direkayasa.

Ketika ditanya pers, apa sudah ada komunikasi dgn parpol-parpol maka saya jawab, ya, sudah ada komunikasi informal.

Istilahnya saling bergurau melempar bola politik utk coba-coba. Komunikasi formal tdk ada.

Apa saya bersedia jd cawapres?

Jawaban saya tetap, “sy tidak ingin tp bukan tidak mau”.

Atas jawaban “tidak ingin tapi tak mau” itu ada wartawan yg menyeletuk, “Kok jawabannya bersayap, artinya bersedia, kan?”. Mau menjawab bagaimana lagi?

Itulah sikap saya. “Kalau bilang ingin saya bisa dinilai tak tahu diri tapi kalau bilang tidak mau bis dinilai sombong dan tak nasionalis”.

Jadi gimana menurut sobat yang baca kultwit Prof Mahmud Md di atas tentang menjawab pertanyaan pencawapresan?

Kalau menurut admin sih begini simplenya.

-Menginginkan kah ? Jawab: No

– Bersediakah? Jawab: Yes

Beliau tidak menginginkan namun jika beliau diingini oleh Parpol,Capres, dan terlebih masyarakat maka jawabannya adalah lain.

😀

Tinggalkan Balasan