Torosiaje , Kampung Bajo Gorontalo

Traveling kali ini bercerita tentang perjalanan ke Torosiaje Gorontalo oleh Bro Herman Ismail ,Torosiaje , Kampung Bajo Gorontalo adalah sebuah desa yang berada di kabupaten paling barat di Propinsi Gorontalo dan telah menjadi salah satu destinasi wisata di Gorontalo yang menyimpan banyak keunikan. Torosiaje ini didiami suku Bajo yang dikenal sebagai Suku Laut. Tak lengkap rasanya jika menginjakan kaki di Gorontalo tapi tidak berkunjung ke Torosiaje

Torosiaje
selamat datang di Torosiaje

Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman trip singkat weekend di Torosiaje.  Walaupun saya asli Gorontalo tapi baru untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Torosiaje. Perjalanan ke Torosiaje berjarak kurang lebih 250 km dari ibukota Propinsi Gorontalo. Torosiaje adalah bagian dari Kecamatan Popayato yang letaknya kurang lebih 40 menit ke arah barat kita akan berada di perbatasan Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Parigi Moutong.

Perjalanan ke Torosiaje saya lakukan bersama seorang teman dengan memakai kendaraan umum, sungguh menakjubkan melakukan perjalanan dengan mencoba transportasi publik.

Torosiaje
Menjelang Senja di Torosiaje

Jam 10 pagi kami dijemput mobil travel jurusan Gorontalo-Marisa. Mobil travel di Gorontalo yang dimaksud adalah mobil mobil sejenis avanza yang mematok harga sesuai jarak tempuh. Harga per orang disesuaikan dengan posisi duduk di dalam mobil, kali ini kami memilih duduk di posisi tengah dengan membayar Rp.60.000/orang. Dan mobilpun meluncur menuju kota Marisa, ternyata kami semobil dengan dua bule asal Jerman yang akan singgah di Pantai Libuo Paguat. Dalam perjalanan kami berkenalan dan banyak menceritakan tentang tempat tempat wisata di Gorontalo kepada dua bule Jerman tersebut.

Torosiaje
Mobil travel yang membawa kami ke Marisa

Setelah perjalanan 3 jam akhirnya kami sampai di Terminal Kota Marisa di Kabupaten Pohuwato. Di terminal ini kami harus berganti kendaraan dengan memilih angkot rute Marisa – Popayato. Kami harus menunggu 30 menit agar angkotnya penuh. Angkot rute ini bisa mengantarkan langsung ke kawasan dermaga desa Torosiaje. Dengan melakukan nego ke sopir angkot akhirnya kami membayar Rp.35.000/orang untuk sampai ke desa tersebut. Dalam waktu 2 jam kami pun tiba di dermaga Desa Torosiaje.

Torosiaje
Terminal Bus kota Marisa

Menakjubkan, itu kata pertama yang terucap ketika saya menginjakkan kaki di dermaga Desa Torosiaje. Terdapat Gapura Selamat Datang dan Jembatan panjang yang menjulur ke laut yang akan menghubungkan dermaga dan Desa Torosiaje yang berada di atas laut. Di dermaga ini telah menunggu sejumlah bapak bapak yang menawarkan perahu untuk menuju pusat desa dan cukup membayar Rp.5.000/orang.

Torosiaje

Dengan melewati hutan bakau kurang dari 10 menit dan kamipun sampai di tempat tujuan. Kumpulan rumah rumah yang berada di atas laut dan tiang tiang kayu yang jadi penyangga rumah menjadi sambutan kami di Torosiaje. Kamera pun beraksi, selfie pun beraksi. Meski kami tiba di petang hari betapa gembiranya akhirnya bisa kesini. Sunset pun berhasil kami abadikan. Oh sungguh ciptaan Tuhan yang maha sempurna…

Torosiaje
Sunset Torosiaje

Tiba di Torosiaje kami langsung menuju ke rumah Ayahanda (di Gorontalo kepala desa disebut ‘ayahanda’). Kami bertemu dan obrol obrol dengan ayahanda. Ayahanda menyambut kami dengan sangat antusias, beliau menceritakan tentang sejarah desa tentang Torosiaje. Magrib pun tiba dan kami langsung menuju penginapan. Di kampung ini terdapat dua penginapan. Kami memilih salah satu penginapan yang terletak di dekat rumah ayahanda. Tarif per hari penginapannya yaitu Rp.150.000. murah terjangkau

Malam tiba dan kamipun makan malam. Dengan memesan makanan di rumah ayahanda kami disuguhkan makanan khas Bajo. Billa Boe itulah nama jenis makanan khas Bajo di Torosiaje. Dipasangkan dengan Kapuru (jenis makanan ini terbuat dari sagu yang mirip Papedadi Papua) betapa lezatnya menikmati makanan ini di malam hari dengan suasana di atas lautan, oh awesome….

Torosiaje
Billa Boe dan Kapuru, makanan khas suku Bajo
Torosiaje
Billaboe dan Kapuru , Makanan yang biasa

Akhirnya datang juga malam di Torosiaje , jika anda di sini anda juga akan turut merasakan sambutan hangat masyarakatnya. Bertempat di Aula Serba Guna Desa kami diajak ayahanda berbaur dengan masyarakat. Beberapa masyarakat dan anak muda desa berkumpul bernyanyi dan bercengkerama. Bahagia itu ternyata sederhana. Dan malampun kami habiskan hingga pukul 12 malam kami harus beristirahat. Melelahkan namun tentu saja menyenangkan .

Torosiaje

Pagi tiba, jam 05.30 kami dijemput perahu orderan untuk mengelilingi desa. Sunrise pun dapat. Kami mengeksplore keseluruhan desa. Sebuah Sekolah Dasar yang suasananya mirip SD di film Laskar Pelangi tak luput kami kunjungi. Sebuah pulau yang penuh dengan manggrove pun jadi incaran kamera kami.

Torosiaje
Torosiaje

Waha Seru Ya, Itulah pengalaman sobat saya Bro Herman Ismail dari Gorontalo yang melakukakn traveling di Torosiaje Gorontalo , tentu saja artikel ini sangat bermanfaat bagi sobat sekalian yang ingin mengunjungi kota Gorontalo .

nantiduluid
Sangat suka menulis , menghindari stuck dalam hal apapun